Lari dari Pengungsian, Imigran Rohingya Tewas Tabrakan

Diposting oleh : Super Admin, Kategori: Berita Utama

Akbar Dongoran

Jurnalis

Jumat, 9 Oktober 2015 - 14:16 wib

MEDAN - Abul Hasyim (17), pengungsi Rohingya yang ditampung di Hotel Pelangi, Simalingkar, Medan, meninggal dunia setelah kabur dari penampungan. Abul diduga tewas akibat tabrakan saat hendak menuju ke lokasi penampungan Rohingnya lainnya di Langsa, Provinsi Aceh.

Awalnya, ‎Abul terlihat oleh sesama pengungsi keluar dari Hotel Pelangi pada Rabu 7 Oktober malam. Dia terlihat menaiki bus tujuan Langsa. Keesokan harinya, rekannya sesama pengungsi mendapat kabar bahwa pemuda itu tewas. Jenazahnya tiba di Hotel Pelangi Medan, pagi tadi.

Pihak Imigrasi sendiri sepertinya tertutup atas tewasnya Abul. Imigrasi melarang wartawan masuk ke bagian belakang hotel yang menjadi lokasi penampungan pengungsi itu. Awak media hanya diperbolehkan melihat dari jauh. Satu unit ambulans diparkir di lokasi itu.

Kepala Sub Penindakan Kantor Imigrasi Polonia Medan Muhammad Fabe mengatakan, larangan itu sesuai instruksi atasannya. Begitupun, dia mengakui Abul Hasyim memang tewas. "Informasi yang kami terima dari kepolisian, dia meninggal karena kecelakaan lalu lintas," kata Muhammad Fabe.
Dia mengatakan, seperti pengungsi lainnya, Abul Hasyim boleh keluar dari penampungan, namun masih di wilayah Medan, dari pukul 07.00 sampai 23.00 WIB. Namun, setelah keluar pukul 22.00 WIB, dia tak kembali sampai akhirnya dikabarkan tewas.
Namun, sejumlah pengungsi tidak begitu saja percaya jika Abul Hasyim tewas karena kecelakaan. "Kalau kecelakaankan banyak lukanya, ini tidak, cuma tangannya yang patah," ucap Nur Muhammad, salah seorang pengungsi.
Para pengungsi juga mempersoalkan biaya yang harus mereka keluarkan untuk membawa jasad Abul Hasyim ke Medan. "Kami mengumpulkan Rp8 juta, dikasih ke orang Imigrasi karena katanya kalau dibawa ke Medan tidak dibiayai," kata seorang pengungsi.
Ditanya soal dana pemulangan itu, Muhammad Fabe mengaku tidak tahu. "Saya belum tahu itu, saya baru di sini. Baru kali ini saya ngurus imigran meninggal, makanya saya kelimpungan. Yang minta itu imigrasi sana, Aceh. Mereka yang telepon ke sana biayanya berapa. Kalau di kita memang tidak ada anggaran untuk itu," jelasnya.
(ris)

Pihak Imigrasi sendiri sepertinya tertutup atas tewasnya Abul. Imigrasi melarang wartawan masuk ke bagian belakang hotel yang menjadi lokasi penampungan pengungsi itu. Awak media hanya diperbolehkan melihat dari jauh. Satu unit ambulans diparkir di lokasi itu.

Kepala Sub Penindakan Kantor Imigrasi Polonia Medan Muhammad Fabe mengatakan, larangan itu sesuai instruksi atasannya. Begitupun, dia mengakui Abul Hasyim memang tewas. "Informasi yang kami terima dari kepolisian, dia meninggal karena kecelakaan lalu lintas," kata Muhammad Fabe.

Dia mengatakan, seperti pengungsi lainnya, Abul Hasyim boleh keluar dari penampungan, namun masih di wilayah Medan, dari pukul 07.00 sampai 23.00 WIB. Namun, setelah keluar pukul 22.00 WIB, dia tak kembali sampai akhirnya dikabarkan tewas.

Namun, sejumlah pengungsi tidak begitu saja percaya jika Abul Hasyim tewas karena kecelakaan. "Kalau kecelakaankan banyak lukanya, ini tidak, cuma tangannya yang patah," ucap Nur Muhammad, salah seorang pengungsi.

Para pengungsi juga mempersoalkan biaya yang harus mereka keluarkan untuk membawa jasad Abul Hasyim ke Medan. "Kami mengumpulkan Rp8 juta, dikasih ke orang Imigrasi karena katanya kalau dibawa ke Medan tidak dibiayai," kata seorang pengungsi.

Ditanya soal dana pemulangan itu, Muhammad Fabe mengaku tidak tahu. "Saya belum tahu itu, saya baru di sini. Baru kali ini saya ngurus imigran meninggal, makanya saya kelimpungan. Yang minta itu imigrasi sana, Aceh. Mereka yang telepon ke sana biayanya berapa. Kalau di kita memang tidak ada anggaran untuk itu," jelasnya.

(ris)

sumber : imigrasi.go.id


Berita Lainnya